1:31 AM

dsc_3621_e589afe69cac

Audrey mengerjap-ngerjapkan matanya menahan kantuk yang perlahan-lahan menyerangnya, sementara sang adik, Adriana masih asyik dengan tidurnya. Jalan pantura sudah sangat lengang, hanya sekali-sekali cooper putih mungil itu disalip bus atau truk. Terpikir olehnya untuk berhenti dan istirahat dihotel, perjalanan ke Malang masih jauh. Dan karena hanya berdua sang adik yang juga sama-sama cewek, agaknya akan beresiko jika terus memaksakan tetap jalan. Toh, tidak ada waktu yang harus dikejar.

Belum lagi Audrey menjalankan niatnya untuk berbelok ke hotel, matanya tertumbuk pada dua orang anak kecil di lampu merah perempatan jalan di depannya. Mereka sepertinya adik- kakak. Membawa gitar kecil, mereka asyik menghitung uang yang didapatnya, disebelah anak laki-laki yang besar tergeletak buku besar, entah buku apa.

Audrey menanti mereka menghampiri mobilnya—lampu merah menyala cukup lama—tapi dua anak kecil itu tidak juga bergerak. Mungkin karena hanya ada tiga kendaraan yang berhenti, sebuah bus, truk dan mobilnya Audrey. Audrey melihat jam di dashboard-nya, 1:31AM, jam segini mereka belum pulang juga, apa besok tidak sekolah? Diperhatikannya lagi penampilan kedua bocah itu. Dekil, dengan celana pendek, kaus kusam, dan bertelanjang kaki.
Audrey menarik nafas panjang. Sungguh berbeda dengan dirinya.

Lampu hijau menyala. Audrey menginjak pedal gas dengan kepala yang masih tertuju pada kedua bocah itu. Dari kaca spion dia masih bisa melihat keduanya yang—sepertinya—serius berbicara.

Mendadak satu pikiran muncul di kepalanya, Audrey memutar balik mobilnya dan berhenti tidak jauh dari kedua bocah pengamen tadi. Merasa mobil berhenti, Adriana terbangun.

‘Ada apa Kak? Kok berhenti?’ Tanya Adriana sambil mengeliat dan menggosok-gosok kedua matanya.

‘Nggak ada apa-apa, gue capek mau istirahat bentar, lo tidur aja lagi.’ Jawab Audrey sambil menutup pintu mobil. Dia tidak mengatakan tentang dua bocah pengamen itu, karena Audrey tahu adiknya paling anti dengan “kaum-kaum kumuh”.

‘Hai malem.’ Sapa Audrey begitu sampai di dekat kedua bocah itu.

Kedua anak itu jelas terkejut ada seorang cewek yang mendatangi mereka malam-malam begini. Sang kakak memperhatikan Audrey dari ujung rambut hingga ujung kaki, sementara adiknya berbisik,

‘Bule Mas, tapi kok iso ngomong jowo yo?’ kakaknya tidak menjawab tapi masih menatap tajam kearah Audrey.

Audrey tersenyum mendengar bisikan tadi, meskipun dia tidak mahir berbicara bahasa Jawa tapi dia bisa mengerti ucapan anak kecil tadi, karena keluarga Mama-nya banyak yang tinggal di Malang otomatis mereka seringnya berbicara bahasa Jawa daripada bahasa Indonesia apalagi bahasa Spanyol, hampir tidak pernah. Paling-paling saat Papa-nya ada ditengah-tengah mereka, baru sekali-sekali bahasa Spanyol muncul.

‘Eerm.. aku mau tanya, ada hotel nggak di sekitar sini?’ Tanya Audrey, sambil berjongkok disamping kedua anak itu.

‘Ada Mbak, kalau dari sana agak jauh.’ Jawab sang kakak sambil menunjuk arah datangnya Audrey tadi. ‘Tapi kalau Mbak terus kesana, lebih dekat, tidak sampai perempatan yang disana itu ada beberapa hotel.’

Audrey mengangguk-angguk mendengar penjelasan bocah itu. Diambilnya buku yang tergeletak disamping kaki sang kakak. Ternyata buku modul untuk sekolah terbuka tingkat SMP. Anak ini masih sekolah. Adiknya mungkin masih SD.

‘Ngomong-ngomong, kok sampai jam segini kalian belum pulang sih. Ini udah lewat tengah malam lho.’ Kata Audrey.

‘Uangnya belum cukup, nanti kalau sudah kami akan pulang.’ Jawab si adik cepat dan seketika mendapat tatapan tajam kakaknya.

Kening Audrey berkerut, pikiran pertamanya adalah kedua anak ini dipaksa bekerja untuk seseorang dan harus menyerahkan setoran setiap harinya, kasus-kasus semacam itu kan sedang marak saat ini.

‘Dia butuh uang untuk membayar biaya sekolah. Besok harus membayar.’ Jelas sang kakak dengan nada yang tiba-tiba berubah putus asa.

‘Memang berapa uang sekolahnya?’ Tanya Audrey lagi, lega, dua anak ini bukan anak yang terikat preman.

‘Dua puluh ribu.’ Jawab si adik.

Audrey terhenyak seketika, dua puluh ribu?! Hanya demi dua puluh ribu mereka berkeliaran dijalan sampai lewat tengah malam. Audrey lebih terkejut lagi ketika Adriana tiba-tiba sudah berada dibelakangnya.

‘Nah Ayah dan Ibu kalian? Apa tidak memberi uang?’ Tanya Audrey.

‘Emak dan Bapak mencari uang untuk makan, untuk sekolah kami cari sendiri.’ Jelas si kakak.

‘Memang orang tua kalian tidak cemas kalian belum pulang jam segini?’

Agak aneh kan kalau ada orang tua yang sampai membiarkan anaknya berkeliaran dijalan sampai selarut ini.

‘Mereka juga baru mulai bekerja lagi dipasar.’ Terang si adik.

‘Tengah malam begini?’ Tanya Audrey tidak percaya.

Sang kakak mengangguk. ‘Kalau tidak cepat-cepat, tidak bisa mendapat uang. Kami butuh makan dan dia masih sekolah.’

Mendadak Adriana berbalik menuju mobil tanpa berkata-kata.

Kedua anak itu memperhatikan Adriana dengan seksama dan penuh tanya.

‘Oh, dia adikku, namanya Adri, Adriana. Maaf ya kelakuannya memang sombong.’ Kata Audrey menjawab pandangan penuh Tanya kedua anak itu.

‘Kalau nama kakak siapa?’ Tanya si adik.

‘Audrey. Kalau kalian?’

‘Aku Dwi, nah mas-ku namanya Eka.’ Jawab si adik.

Adriana kembali dengan dua kantong KFC dan satu tas plastik yang Audrey tahu berisi buah-buahan. Tanpa berkata-kata Adri duduk dan meletakkan bungkusan yang dibawanya ditangah-tengah mereka. Diambilnya sebungkus nasi dan sepotong ayam.

‘Nih, ada sedikit makanan, kalian makan aja. Gila gue laper banget. Disini anginnya kenceng ya?’ cerocos Adri sambil merapatkan jaketnya.

Eka dan Dwi saling pandang, bertatapan aneh. Audrey hanya terbengong-bengong. Apa tidak salah dengan Adri, jangankan sampai makan di trotoar, biasanya berjalan kaki saja tidak mau!

‘Kenapa? Pada nggak mau makan? Jangan salahin gue ya ntar kalo abis.’ Kata Adri menyadari tatapan aneh mereka.

Audrey tersenyum, ‘Kalian makan saja, buruan, nanti dihabisin si Adri, dia rakus soalnya.’

Adri tidak bergeming, tapi terus mengunyah. Kedua anak itu kembali saling bertatapan dan tersenyum mendengar kat-kata Audrey. Audrey mengerti apa yang dipikirkan keduanya.

‘Tenang aja, kami bukan penculik kok, emang kami berdua bertampang penjahat ya?’ candanya.

‘Kami mau ke rumah nenek di Malang.’

Meski awalnya ragu-ragu kedua anak itupun ikut makan. Lahap sekali mereka. Audrey bertanya dalam hati, kapan terakhir kalinya mereka makan makanan enak tanpa harus berfikir ada uang atau tidak untuk besok.

Ditatapnya tubuh lusuh itu lekat-lekat, anak sekecil ini sudah dtuntut untuk mandiri, dia menengok dirinya sendiri, mendadak perasaan malu menyelusup hatinya. Sampai detik ini dia masih mengandalkan orang tua, meskipun dia sudah bekerja.

Dialihkan pandangannya ke Adri yang tertawa-tawa bersama Eka dan Dwi. Ternyata adiknya itu bisa juga bercanda dengan orang yang baru dikenalnya. Padahal sebelumnya Adri sangat anti dengan “kaum gembel” jangankan mendekat, melihat saja tidak sudi. Tapi malam ini Adri bukan hanya berdekatan tapi juga makan bersama mereka, di trotoar pula! Sungguh suatu keajaiban.

‘Kakak berdua bule tapi kok bisa bahasa Indonesia?’ Tanya Dwi tiba-tiba.

‘Ya iyalah bisa. Gue sama kakak lahir dan gede di Jakarta. Papa orang Spanyol dan Mama orang Malang, gitu.’ Jawab Adri.

Dwi hanya manggut-manggut. ‘Terus, Mbak Adri sudah pernah ke Spanyol?’

Adri mengangguk seraya mengupas jeruk. ‘Gue pernah beberapa tahun tinggal disana, tapi balik lagi ke Jakarta. Disana nggak enak, nggak ada yang ngurus, hehe…’

Tanpa sengaja Audrey melihat jam tangan Adri. Jam satu lewat.

‘ Eh, udah jam satu lewat nih, kalian pulang gih, udah larut malem. Rumah kalian dimana?

Kakak anter pulang.’ Ajak Audrey.

Keduanya terkejut, seperti menyadari sesuatu.

Audrey tahu, masalah uang itu.‘Kalian nggak usah cemas dengan uang, nanti kakak kasih.Rumah kalian jauh nggak dari sini. Mobil bisa lewat?’Tanya Audrey.

Eka mengangguk. ‘Rumah kami dibawah jembatan itu.’

Eka menunjuk sebuah jembatan yang tak jauh dari mereka duduk.Malam itu ada sebuah keajaiban. Di salah satu perempatan lampu merah di kota Kudus, tiga sosok tubuh berjalan di kegelapan menuju sebuah rumah kecil terbuat dari bambu di bawah sebuah jembatan. Dibelakangnya sebuah mini cooper putih mengikuti mereka perlahan.

Malam itu juga dua orang sangat senang karena untuk pertama kalinya mereka merasakan nikmatnya berbagi. Sedangkan bagi dua orang anak itu, mereka serasa mendapat keajaiban bertemu dengan orang mau membantu mereka dengan tulus. Rasa lelah dan kantuk yang semula begitu mengganggu kini menguap begitu saja.

‘Ini nomor telepon kakak, telepon aja kalau ada apa-apa, ya.’ Kata Audrey sambil menuliskan nomor hp-nya di buku Eka.

‘Jangan sampai hilang ya.’ Pesannya lagi.

Setengah satu malam di perempatan kota Kudus, semoga tidak ada lagi anak-anak seperti Eka dan Dwi yang harus berjuang hanya untuk mendapatkan sedikit pendidikan.

 

*This is another short story I found, I’ll trans it into english later :)*

Photo credit as tagged

Written and Posted by tara lee@blue plum blossoms decoded

Advertisements

3 thoughts on “1:31 AM

  1. di bandung juga banyak banget.. terutama sekitar jalan riau atau perempatan gatsu.. parahnya kebanyakan usaha mereka itu jualan cobek, tau kan, ulekan buat bikin sambel…dan mereka asalnya jauh dari cimahi :/

comments are most welcome

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s