The Stars – 2nd Something Inside

the stars

John sighs and straight his back up, ‘alright, I think we got to talk about a new member. I do feel that we missing something, four is better than three.’

Silence.

‘No idea?’ John asked since Tom and Ringo fell silent.

Ringo open his eyes lazily and saying, ‘I have no other person than Jerry and Tom rejected it. So?’

Tom shrugged, ‘He’s the last choice then.’

‘Anyway what’s wrong with him? You don’t even know him, you make nonsense judgment.’ Ringo pouted.

John looks at Ringo for agreement, aside of everything he, too, has no idea why Tom hates Jerry.

‘He frightened me.’

Both John and Ringo look at Tom in disbelief. The man who afraid of nothing and loves using his fist rather than words threatened by first year junior? It must be a joke.

‘Come on, look at his appearance, long hair, pierces and anyway, how tall is he?’

Both John and Ringo burst into laughter. Did they hear right?

‘And I don’t like somebody who likes playing around; I can see that he never be serious.’ Tom continues spitting out his impression towards Jerry.

‘Sorry mate,’ John coughing, ‘I think you think too much, and yes, how tall is he?’ John asked to Ringo.

‘I don’t know, 6.3 maybe, anyway Tom, as you said, he likes playing around, didn’t you think it’s good. We’re not only needing someone who playing bass but also someone who wanna wasting time.’ Ringo explained sending both John and Tom into puzzle.

‘You got to wake up,’ Ringo indicated to Tom, ‘we don’t have many choices, you know, most of our classmates belong to the talent agencies already.’ Ringo concluded.

 

Read the whole chapter here

The Stars

Posted by Tara Lee @blue plum blossoms decoded

Advertisements

THE STARS

the stars

The Stars is a story about four art shcool students who pursue their dream in music. Inspired by Korean rock band CNBLUE, The Stars giving a small hint about what might happen to them during their pre-debut in Japan as indie band.

Not to be confuse here, this story is definately not CNBLUE’s documentary although some of them based with what they had told in many interviews.

Overall The Stars is teens story where dream, passion and failure created. As John said to warn his member once their only proper stage about to close down,   ‘the first stone will followed by another, be ready ‘cause our path is still long way to go and we’re not suffering yet.’

Read the whole story here THE STARS

The Stars by Tara Lee @blue plum blossoms decoded

1:31 AM

dsc_3621_e589afe69cac

Audrey mengerjap-ngerjapkan matanya menahan kantuk yang perlahan-lahan menyerangnya, sementara sang adik, Adriana masih asyik dengan tidurnya. Jalan pantura sudah sangat lengang, hanya sekali-sekali cooper putih mungil itu disalip bus atau truk. Terpikir olehnya untuk berhenti dan istirahat dihotel, perjalanan ke Malang masih jauh. Dan karena hanya berdua sang adik yang juga sama-sama cewek, agaknya akan beresiko jika terus memaksakan tetap jalan. Toh, tidak ada waktu yang harus dikejar.

Belum lagi Audrey menjalankan niatnya untuk berbelok ke hotel, matanya tertumbuk pada dua orang anak kecil di lampu merah perempatan jalan di depannya. Mereka sepertinya adik- kakak. Membawa gitar kecil, mereka asyik menghitung uang yang didapatnya, disebelah anak laki-laki yang besar tergeletak buku besar, entah buku apa.

Audrey menanti mereka menghampiri mobilnya—lampu merah menyala cukup lama—tapi dua anak kecil itu tidak juga bergerak. Mungkin karena hanya ada tiga kendaraan yang berhenti, sebuah bus, truk dan mobilnya Audrey. Audrey melihat jam di dashboard-nya, 1:31AM, jam segini mereka belum pulang juga, apa besok tidak sekolah? Diperhatikannya lagi penampilan kedua bocah itu. Dekil, dengan celana pendek, kaus kusam, dan bertelanjang kaki.
Audrey menarik nafas panjang. Sungguh berbeda dengan dirinya.

Lampu hijau menyala. Audrey menginjak pedal gas dengan kepala yang masih tertuju pada kedua bocah itu. Dari kaca spion dia masih bisa melihat keduanya yang—sepertinya—serius berbicara.

Mendadak satu pikiran muncul di kepalanya, Audrey memutar balik mobilnya dan berhenti tidak jauh dari kedua bocah pengamen tadi. Merasa mobil berhenti, Adriana terbangun.

‘Ada apa Kak? Kok berhenti?’ Tanya Adriana sambil mengeliat dan menggosok-gosok kedua matanya.

‘Nggak ada apa-apa, gue capek mau istirahat bentar, lo tidur aja lagi.’ Jawab Audrey sambil menutup pintu mobil. Dia tidak mengatakan tentang dua bocah pengamen itu, karena Audrey tahu adiknya paling anti dengan “kaum-kaum kumuh”.

‘Hai malem.’ Sapa Audrey begitu sampai di dekat kedua bocah itu.

Kedua anak itu jelas terkejut ada seorang cewek yang mendatangi mereka malam-malam begini. Sang kakak memperhatikan Audrey dari ujung rambut hingga ujung kaki, sementara adiknya berbisik,

‘Bule Mas, tapi kok iso ngomong jowo yo?’ kakaknya tidak menjawab tapi masih menatap tajam kearah Audrey.

Audrey tersenyum mendengar bisikan tadi, meskipun dia tidak mahir berbicara bahasa Jawa tapi dia bisa mengerti ucapan anak kecil tadi, karena keluarga Mama-nya banyak yang tinggal di Malang otomatis mereka seringnya berbicara bahasa Jawa daripada bahasa Indonesia apalagi bahasa Spanyol, hampir tidak pernah. Paling-paling saat Papa-nya ada ditengah-tengah mereka, baru sekali-sekali bahasa Spanyol muncul.

‘Eerm.. aku mau tanya, ada hotel nggak di sekitar sini?’ Tanya Audrey, sambil berjongkok disamping kedua anak itu.

‘Ada Mbak, kalau dari sana agak jauh.’ Jawab sang kakak sambil menunjuk arah datangnya Audrey tadi. ‘Tapi kalau Mbak terus kesana, lebih dekat, tidak sampai perempatan yang disana itu ada beberapa hotel.’

Audrey mengangguk-angguk mendengar penjelasan bocah itu. Diambilnya buku yang tergeletak disamping kaki sang kakak. Ternyata buku modul untuk sekolah terbuka tingkat SMP. Anak ini masih sekolah. Adiknya mungkin masih SD.

‘Ngomong-ngomong, kok sampai jam segini kalian belum pulang sih. Ini udah lewat tengah malam lho.’ Kata Audrey.

‘Uangnya belum cukup, nanti kalau sudah kami akan pulang.’ Jawab si adik cepat dan seketika mendapat tatapan tajam kakaknya.

Kening Audrey berkerut, pikiran pertamanya adalah kedua anak ini dipaksa bekerja untuk seseorang dan harus menyerahkan setoran setiap harinya, kasus-kasus semacam itu kan sedang marak saat ini.

‘Dia butuh uang untuk membayar biaya sekolah. Besok harus membayar.’ Jelas sang kakak dengan nada yang tiba-tiba berubah putus asa.

‘Memang berapa uang sekolahnya?’ Tanya Audrey lagi, lega, dua anak ini bukan anak yang terikat preman.

‘Dua puluh ribu.’ Jawab si adik.

Audrey terhenyak seketika, dua puluh ribu?! Hanya demi dua puluh ribu mereka berkeliaran dijalan sampai lewat tengah malam. Audrey lebih terkejut lagi ketika Adriana tiba-tiba sudah berada dibelakangnya.

‘Nah Ayah dan Ibu kalian? Apa tidak memberi uang?’ Tanya Audrey.

‘Emak dan Bapak mencari uang untuk makan, untuk sekolah kami cari sendiri.’ Jelas si kakak.

‘Memang orang tua kalian tidak cemas kalian belum pulang jam segini?’

Agak aneh kan kalau ada orang tua yang sampai membiarkan anaknya berkeliaran dijalan sampai selarut ini.

‘Mereka juga baru mulai bekerja lagi dipasar.’ Terang si adik.

‘Tengah malam begini?’ Tanya Audrey tidak percaya.

Sang kakak mengangguk. ‘Kalau tidak cepat-cepat, tidak bisa mendapat uang. Kami butuh makan dan dia masih sekolah.’

Mendadak Adriana berbalik menuju mobil tanpa berkata-kata.

Kedua anak itu memperhatikan Adriana dengan seksama dan penuh tanya.

‘Oh, dia adikku, namanya Adri, Adriana. Maaf ya kelakuannya memang sombong.’ Kata Audrey menjawab pandangan penuh Tanya kedua anak itu.

‘Kalau nama kakak siapa?’ Tanya si adik.

‘Audrey. Kalau kalian?’

‘Aku Dwi, nah mas-ku namanya Eka.’ Jawab si adik.

Adriana kembali dengan dua kantong KFC dan satu tas plastik yang Audrey tahu berisi buah-buahan. Tanpa berkata-kata Adri duduk dan meletakkan bungkusan yang dibawanya ditangah-tengah mereka. Diambilnya sebungkus nasi dan sepotong ayam.

‘Nih, ada sedikit makanan, kalian makan aja. Gila gue laper banget. Disini anginnya kenceng ya?’ cerocos Adri sambil merapatkan jaketnya.

Eka dan Dwi saling pandang, bertatapan aneh. Audrey hanya terbengong-bengong. Apa tidak salah dengan Adri, jangankan sampai makan di trotoar, biasanya berjalan kaki saja tidak mau!

‘Kenapa? Pada nggak mau makan? Jangan salahin gue ya ntar kalo abis.’ Kata Adri menyadari tatapan aneh mereka.

Audrey tersenyum, ‘Kalian makan saja, buruan, nanti dihabisin si Adri, dia rakus soalnya.’

Adri tidak bergeming, tapi terus mengunyah. Kedua anak itu kembali saling bertatapan dan tersenyum mendengar kat-kata Audrey. Audrey mengerti apa yang dipikirkan keduanya.

‘Tenang aja, kami bukan penculik kok, emang kami berdua bertampang penjahat ya?’ candanya.

‘Kami mau ke rumah nenek di Malang.’

Meski awalnya ragu-ragu kedua anak itupun ikut makan. Lahap sekali mereka. Audrey bertanya dalam hati, kapan terakhir kalinya mereka makan makanan enak tanpa harus berfikir ada uang atau tidak untuk besok.

Ditatapnya tubuh lusuh itu lekat-lekat, anak sekecil ini sudah dtuntut untuk mandiri, dia menengok dirinya sendiri, mendadak perasaan malu menyelusup hatinya. Sampai detik ini dia masih mengandalkan orang tua, meskipun dia sudah bekerja.

Dialihkan pandangannya ke Adri yang tertawa-tawa bersama Eka dan Dwi. Ternyata adiknya itu bisa juga bercanda dengan orang yang baru dikenalnya. Padahal sebelumnya Adri sangat anti dengan “kaum gembel” jangankan mendekat, melihat saja tidak sudi. Tapi malam ini Adri bukan hanya berdekatan tapi juga makan bersama mereka, di trotoar pula! Sungguh suatu keajaiban.

‘Kakak berdua bule tapi kok bisa bahasa Indonesia?’ Tanya Dwi tiba-tiba.

‘Ya iyalah bisa. Gue sama kakak lahir dan gede di Jakarta. Papa orang Spanyol dan Mama orang Malang, gitu.’ Jawab Adri.

Dwi hanya manggut-manggut. ‘Terus, Mbak Adri sudah pernah ke Spanyol?’

Adri mengangguk seraya mengupas jeruk. ‘Gue pernah beberapa tahun tinggal disana, tapi balik lagi ke Jakarta. Disana nggak enak, nggak ada yang ngurus, hehe…’

Tanpa sengaja Audrey melihat jam tangan Adri. Jam satu lewat.

‘ Eh, udah jam satu lewat nih, kalian pulang gih, udah larut malem. Rumah kalian dimana?

Kakak anter pulang.’ Ajak Audrey.

Keduanya terkejut, seperti menyadari sesuatu.

Audrey tahu, masalah uang itu.‘Kalian nggak usah cemas dengan uang, nanti kakak kasih.Rumah kalian jauh nggak dari sini. Mobil bisa lewat?’Tanya Audrey.

Eka mengangguk. ‘Rumah kami dibawah jembatan itu.’

Eka menunjuk sebuah jembatan yang tak jauh dari mereka duduk.Malam itu ada sebuah keajaiban. Di salah satu perempatan lampu merah di kota Kudus, tiga sosok tubuh berjalan di kegelapan menuju sebuah rumah kecil terbuat dari bambu di bawah sebuah jembatan. Dibelakangnya sebuah mini cooper putih mengikuti mereka perlahan.

Malam itu juga dua orang sangat senang karena untuk pertama kalinya mereka merasakan nikmatnya berbagi. Sedangkan bagi dua orang anak itu, mereka serasa mendapat keajaiban bertemu dengan orang mau membantu mereka dengan tulus. Rasa lelah dan kantuk yang semula begitu mengganggu kini menguap begitu saja.

‘Ini nomor telepon kakak, telepon aja kalau ada apa-apa, ya.’ Kata Audrey sambil menuliskan nomor hp-nya di buku Eka.

‘Jangan sampai hilang ya.’ Pesannya lagi.

Setengah satu malam di perempatan kota Kudus, semoga tidak ada lagi anak-anak seperti Eka dan Dwi yang harus berjuang hanya untuk mendapatkan sedikit pendidikan.

 

*This is another short story I found, I’ll trans it into english later :)*

Photo credit as tagged

Written and Posted by tara lee@blue plum blossoms decoded

KUPU-KUPU KERTAS

pu_fg_chou

Reva baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang, ketika ponselnya berdering. Dari Resti. Ada apa Resti menelepon tengah malam begini?

‘Halo Rev, ayah pulang malam ini, kamu kesini ya?’ pinta Resti begitu Reva menjawab “Halo”.

Kening Reva berkerut. ‘Tapi ini udah lebih dari tengah malam lho, besok aja ya. Pagi-pagi deh aku kesana.’

‘Nggak nyesel nanti kamu nggak ketemu ayah. Katanya kamu pulang untuk ketemu ayah.’ Kata Resti mengingatkan “misi” kepulangan Reva dari Barcelona.

‘Yaah.. kan masih banyak waktu ini. Aku capek banget nih, baru jam setengah dua-belas tadi aku nyampe dari Surabaya.’ Ucap Reva beralasan.

Memang benar Reva baru sampai di Malang sekitar dua setengah jam yang lalu, setelah menempuh perjalanan lebih dari dua puluh jam dari Barcelona-Kuala Lumpur-Surabaya.

‘Rev, bagaimana kalau udah nggak ada waktu lagi?’ Tanya Resti dengan suara pelan dan hampa.

Reva mengeryit mendengar intonasi suara Resti yang mendadak berubah.

‘Maksudmu?’ Tanya Resti bingung.

‘Udahlah, kamu ke rumah sekarang. Kutunggu ya, bye.’ Kata Resti menutup teleponnya.

Ada yang tidak biasa dengan Resti. Setelah tercenung beberapa saat, Reva akhirnya mengikuti kemauan Resti. Disambarnya jaket dan kunci mobil. Angin berembus kencang begitu Reva membuka pintu gerbang depan, dirapatkan jaketnya. Kompleks perumahannya juga sangat lengang, semua orang pastinya sudah terlelap dibuai mimpi. Pak Iman, satpam di pos terheran-heran begitu mobil Reva melewatinya.

‘Mau kemana Mbak malam-malam begini? Bukannya tadi baru saja sampai?’ Tanya Pak Iman ketika membuka portal.

‘Kerumah Pakde, Pak Iman.’ Jawab Reva sambil tersenyum.

‘Malam-malam begini!?’ Kata Pak Iman kaget.

Reva hanya mengangguk dan meringis. ‘Makasih Pak.’

‘Sama-sama. Hati hati lho Mbak.’ Pak Iman melambaikan tangan menjawab ucapan terima kasih

***

Ada yang aneh dengan rumah Resti. Dari kejauhan Reva bisa melihat jika rumah itu masih terang benderang, kelihatannya ramai pula! Mendadak ada suatu perasaan takut yang mendesak didadanya. Semoga jangan! Ini tidak boleh terjadi. Benar saja, gejolak dihatinya juga semakin terasa begitu Reva memarkir mobilnya di garasi samping rumah. Mobilnya Pakde ataupun Resti sendiri tidak ada, garasi kosong. Dari jauh dia sempat melihat nenek yang berjalan lunglai.

Jantung Reva berdetak semakin cepat. Resti menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan seperti biasanya. Suasana semakin aneh. Hampir semua perabotan di rumah telah disingkirkan, rumah menjadi—semakin tampak—super luas. Roni masih sibuk menggelar karpet terakhir yang ujung pintu, dia juga tersenyum lebar ke Reva, seperti biasa.

‘Kau sudah datang? Maaf ya, merepotkanmu, kata Mbak Resti kamu baru nyampe ya.’ Sapa Roni.

Satu kesamaan. Intonasi dan suara, baik Roni maupun Resti pelan dan hampa! Belum sempat Reva bertanya, sebuah ambulans memasuki halaman rumah, dibelakangnya, Reva mengenali mobil Papanya, begitu juga dibelakangnya lagi, ada beberapa mobil lagi.

‘Ayah datang.’ Desis Resti patah.

Sedangkan Roni sudah berlari ke depan.

Reva membeku ditampatnya berdiri, sirine ambulans itu sudah tidak berbunyi, hanya lampunya yang menyala, biru! Reva merasa seolah ada batu bata meluncur deras dari tenggorokan ke perutnya. Seluruh organ-organnya seolah ditarik keluar dari tubuhnya. Ternyata apa yang ditakutkan sejak memasuki rumah Resti menjadi kenyataan. Reva masih terpaku ketika Resti menariknya minggir. Roni, Papanya dan dua orang yang lain menggotong sesosok tubuh berbalut kain kafan yang dilapisi kain jarit batik.

Itu Pakde. Itu adalah orang yang menjadi alasan Resti buru-buru kembali ke Malang dua hari yang lalu. Tapi bukan untuk ini, bukan untuk menyaksikan tubuh itu kaku tak bergerak dan tak dapat mengenalinya lagi. Reva kemari membawa berita gembira. Reva kemari untuk bersyukur, bukan untuk menangis.

Tidak ada yang dilakukan Reva kecuali berdiri diam tak bergerak dengan mata nanar menatap sesosok tubuh kaku itu, bahkan ketika Budhe-nya datang dan memeluknya, atau Mamanya sendiri yang menghampiri dan menyapanya. Semuanya kosong, sekarang semua usahanya selama berbulan-bulan terasa sia-sia. Reva merasa dikutuk! Reva merasa bodoh, Reva merasa tidak berguna. Kesadaran kembali masuk ke otak Reva begitu orang-orang mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dia juga baru sadar kalau dirinya hanya memakai celana pendek dan t-shirt kumal. Buru-buru dia masuk kamar Resti untuk berganti baju.

‘Budhe ingin memintakan maaf untuk Pakde.’ Kata Budhe ketika Reva selesai berganti baju dan duduk diranjang Resti, bersebelahan dengan Budhe dan Resti.

Kedua orang itu sepertinya sudah ikhlas. Resti masih tidak menangis, Budhe matanya masih merah, tapi tidak menangis.

‘Reva yang harus minta maaf, Reva terlambat.’ Kata Reva lemah.

Dia sungguh menyesal.

Budhe menggeleng. ‘Ini yang terbaik, sekarang kau sudah tidak perlu lagi memikirkan kami, pikirkan dirimu sendiri. Itu yang Pakdhe-mu inginkan. Beliau sangat merasa bersalah padamu, karena merasa telah menjual keponakannya sendiri untuk kesembuhannya.’

Reva menoleh memandang Budhe-nya bingung.

‘Kami tahu Ellé mengeluarkan uang yang tidak sedikit selama setahun ini.’ Tambah Budhe.
Sekali lagi, ini benar. Semua biaya pengobatan Pakdhe memang Ellé—cowok Reva— yang menanggung.
‘Tapi Budhe, itu…..tapi darimana Pakdhe tahu kalau Ellé….’

‘Pakdhe-mu bukan orang bodoh, beliau juga masih bisa berfikir Va, siapa lagi yang mampu sampai berbuat seperti ini kalau bukan Ellé? Iya kan? Sudahlah, sekarang kalian tidak perlu lagi mengeluarkan uang banyak, kamu juga tidak perlu lagi pontang-panting mencari donor. Maaf ya sudah merepotkanmu dan Ellé.’ Kata Budhe memotong kata-kata Reva.

Resti akhirnya menemukan surat-surat pemberitahuan operasi pengangkatan sekaligus pendonoran ginjal bagi almarhum ayahnya ketika dia meminjam mobil Reva pagi harinya.

‘Jadi kamu sudah menyiapkan operasi Ayah?’ Tanya Resti tiba-tiba begitu mendapati Reva masih meringkuk dikamarnya.

Reva terperanjat mendengar pertanyaan itu. Dia lupa kalau surat-surat itu berada di jok belakang mobilnya.

‘Kau menemukannya?’

Resti mengangguk. Reva kemudian menceritakan alasan kepulangan mendadaknya. Pihak rumah sakit sudah mendapatkan pendonor ginjal yang cocok, segala persiapan sudah dilakukan termasuk kamar. Benar-benar tinggal pergi dan operasi bisa segera di jalankan. Siapa sangka, begitu sampai disini semuanya berubah tidak seperti yang dikiranya.

‘Jadi maksudmu, kamu kesini untuk membawa Ayah ke Hongkong, begitu?’

Reva menggeleng, ‘Tidak, kami akan melakukannya di Singapura, lebih dekat. Tapi sekarang sudah tidak berguna kan? Pakdhe sudah pergi.’ Kata Reva patah. ‘Aku barusan membatalkannya, memberitahu mereka apa yang terjadi.’

Resti terdiam. Resti tahu kenapa Reva begitu ngotot untuk membuat ayahnya sembuh, dulu Reva pernah kehilangan Om-nya, makanya kali ini dia berusaha begitu keras untuk membuat Ayahnya sembuh. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain.

‘Ellé bagaimana? Dia juga baru saja menjalani operasikan?’ Tanya Resti memecah keheningan diantara mereka.

Reva menjawab pelan. ‘Dia akan baik-baik saja, besok dia akan keluar dari rumah sakit dan mulai rehabilitasi dirumah, hanya seminggu sekali dia akan check up untuk memantau keadaannya agar bulan depan dia bisa balap lagi.’

***

Yatch itu meluncur tenang membelah lautan dilepas pantai Barcelona. Diburitan berdiri dua orang yang memandang birunya air dengan diam. Disamping cewek itu ada sebuah kotak karton besar. Angin musim semi mengibarkan syal cewek yang matanya mulai memerah. Cewek itu Reva dan cowok disebelahnya adalah Ellé.

Perlahan dia membuka tutup kotak dan melemparkan kupu-kupu kertas hasil lipatan Resti selama Ayahnya sakit sampai beliau dipanggil Yang Maha Kuasa. Reva teringat ucapan Resti saat itu, “Ini aku melipatnya sejak Ayah mulai sakit, harapanku selama ini sekaligus ketakutanku, kau bawalah, terserah mau kau apakan. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu untuk semua usahamu selama ini. Semua hal yang tidak bisa kami lakukan untuk Ayah.”

Reva memandang kupu-kupu kertas yang terbang tertiup angin, kemudian terhempas ke air dengan sayu.

Diambilnya salinan puisi yang ditulis Resti untuk Ayahnya. Puisi aslinya sudah dikubur bersamaam mereka mengubur seorang yang mereka sayangi.

Tuhanku……………….

Hari ini seekor kupu-kupu telah terbang memenuhi panggilan-Mu

Dia terbang dan kembali ke surgamu

Dia kupu-kupu yang indah

Tapi kurasa dia akan lebih indah jika berada bersama-Mu

Ingin ku pergi bersamanyaMelihatnya terbang diantara bunga-bunga-Mu

Tapi belumlah tiba waktuku

Kelak jika sampai diriku dihari itu

Pertemukanlah kami kembali

Dan bersama-sama akan kami warnai taman surga-Mu

Jagalah dia seperti yang selalu Engkau janjikan

Ellé menepuk pelan bahu Reva untuk menguatkan cewek itu.

‘He already in a better place right now, this was the best for him. Let him fly peacefully. Everything will be alright. God, always has a new path for us and your uncle has a new life.You should happy for him.’ Kata Ellé pelan.

Reva hanya mengangguk mendengar itu.

Ya, benar, Tuhan selalu mempunyai rencana yang tidak kita ketahui. Tapi apapun itu pastilah yang terbaik untuk kita, dan jika memang kematian yang terbaik untuk Pakdhe-nya, Reva tidak akan menyesalinya, dia sudah berusaha semampunya untuk membantunya bertahan.
Selamat jalan, bisik hatinya pelan. Kupu-kupu kertas itu semakin lama semakin mengabur dan akhirnya tidak terlihat sama sekali.

July 11th, 2011.

*Two days ago when I visited my old house at Singapore, I found this, the story about the girl who lost her uncle. I’ll translate it into english but in the mean time, I’ll just post the original version.*

Photo credit http://paperunlimited.wordpress.com/category/origami/page/4/

Written and Posted by tara lee @blue plum blossoms decoded