THE STARS

the stars

The Stars is a story about four art shcool students who pursue their dream in music. Inspired by Korean rock band CNBLUE, The Stars giving a small hint about what might happen to them during their pre-debut in Japan as indie band.

Not to be confuse here, this story is definately not CNBLUE’s documentary although some of them based with what they had told in many interviews.

Overall The Stars is teens story where dream, passion and failure created. As John said to warn his member once their only proper stage about to close down,   ‘the first stone will followed by another, be ready ‘cause our path is still long way to go and we’re not suffering yet.’

Read the whole story here THE STARS

The Stars by Tara Lee @blue plum blossoms decoded

FALLING FROM THE SKY

pressure_by_vlad_georgescu-d5dik7t

I’m falling from the sky

As the dream hit my head

Leaving me in ocean of sin

The pieces of hope was scattered for I’m not knowing where it is

I’m all alone in the empty crossroad

I know the rain will falling

Again, maybe to swept away this hesitance

The bell was ringing out loud

Wake me up harshly

There,

a day-dreamer girl

Keep on running in the empty street under the dark cloud

Where the future lies full of shadow

Shr tried to fight the fog

Breaking through the wall

Finding a way to keep her dream

The bell was ringing in the silent night

There’s no star giving the light

It just a spark of hope in her eyes to shine in the darkness

And I know now,

I’m falling from the sky

Photo credit by http://vlad-georgescu.deviantart.com/art/Pressure-325031897

Poem and posted by tara lee @blue plum blossoms decoded

KUPU-KUPU KERTAS

pu_fg_chou

Reva baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang, ketika ponselnya berdering. Dari Resti. Ada apa Resti menelepon tengah malam begini?

‘Halo Rev, ayah pulang malam ini, kamu kesini ya?’ pinta Resti begitu Reva menjawab “Halo”.

Kening Reva berkerut. ‘Tapi ini udah lebih dari tengah malam lho, besok aja ya. Pagi-pagi deh aku kesana.’

‘Nggak nyesel nanti kamu nggak ketemu ayah. Katanya kamu pulang untuk ketemu ayah.’ Kata Resti mengingatkan “misi” kepulangan Reva dari Barcelona.

‘Yaah.. kan masih banyak waktu ini. Aku capek banget nih, baru jam setengah dua-belas tadi aku nyampe dari Surabaya.’ Ucap Reva beralasan.

Memang benar Reva baru sampai di Malang sekitar dua setengah jam yang lalu, setelah menempuh perjalanan lebih dari dua puluh jam dari Barcelona-Kuala Lumpur-Surabaya.

‘Rev, bagaimana kalau udah nggak ada waktu lagi?’ Tanya Resti dengan suara pelan dan hampa.

Reva mengeryit mendengar intonasi suara Resti yang mendadak berubah.

‘Maksudmu?’ Tanya Resti bingung.

‘Udahlah, kamu ke rumah sekarang. Kutunggu ya, bye.’ Kata Resti menutup teleponnya.

Ada yang tidak biasa dengan Resti. Setelah tercenung beberapa saat, Reva akhirnya mengikuti kemauan Resti. Disambarnya jaket dan kunci mobil. Angin berembus kencang begitu Reva membuka pintu gerbang depan, dirapatkan jaketnya. Kompleks perumahannya juga sangat lengang, semua orang pastinya sudah terlelap dibuai mimpi. Pak Iman, satpam di pos terheran-heran begitu mobil Reva melewatinya.

‘Mau kemana Mbak malam-malam begini? Bukannya tadi baru saja sampai?’ Tanya Pak Iman ketika membuka portal.

‘Kerumah Pakde, Pak Iman.’ Jawab Reva sambil tersenyum.

‘Malam-malam begini!?’ Kata Pak Iman kaget.

Reva hanya mengangguk dan meringis. ‘Makasih Pak.’

‘Sama-sama. Hati hati lho Mbak.’ Pak Iman melambaikan tangan menjawab ucapan terima kasih

***

Ada yang aneh dengan rumah Resti. Dari kejauhan Reva bisa melihat jika rumah itu masih terang benderang, kelihatannya ramai pula! Mendadak ada suatu perasaan takut yang mendesak didadanya. Semoga jangan! Ini tidak boleh terjadi. Benar saja, gejolak dihatinya juga semakin terasa begitu Reva memarkir mobilnya di garasi samping rumah. Mobilnya Pakde ataupun Resti sendiri tidak ada, garasi kosong. Dari jauh dia sempat melihat nenek yang berjalan lunglai.

Jantung Reva berdetak semakin cepat. Resti menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan seperti biasanya. Suasana semakin aneh. Hampir semua perabotan di rumah telah disingkirkan, rumah menjadi—semakin tampak—super luas. Roni masih sibuk menggelar karpet terakhir yang ujung pintu, dia juga tersenyum lebar ke Reva, seperti biasa.

‘Kau sudah datang? Maaf ya, merepotkanmu, kata Mbak Resti kamu baru nyampe ya.’ Sapa Roni.

Satu kesamaan. Intonasi dan suara, baik Roni maupun Resti pelan dan hampa! Belum sempat Reva bertanya, sebuah ambulans memasuki halaman rumah, dibelakangnya, Reva mengenali mobil Papanya, begitu juga dibelakangnya lagi, ada beberapa mobil lagi.

‘Ayah datang.’ Desis Resti patah.

Sedangkan Roni sudah berlari ke depan.

Reva membeku ditampatnya berdiri, sirine ambulans itu sudah tidak berbunyi, hanya lampunya yang menyala, biru! Reva merasa seolah ada batu bata meluncur deras dari tenggorokan ke perutnya. Seluruh organ-organnya seolah ditarik keluar dari tubuhnya. Ternyata apa yang ditakutkan sejak memasuki rumah Resti menjadi kenyataan. Reva masih terpaku ketika Resti menariknya minggir. Roni, Papanya dan dua orang yang lain menggotong sesosok tubuh berbalut kain kafan yang dilapisi kain jarit batik.

Itu Pakde. Itu adalah orang yang menjadi alasan Resti buru-buru kembali ke Malang dua hari yang lalu. Tapi bukan untuk ini, bukan untuk menyaksikan tubuh itu kaku tak bergerak dan tak dapat mengenalinya lagi. Reva kemari membawa berita gembira. Reva kemari untuk bersyukur, bukan untuk menangis.

Tidak ada yang dilakukan Reva kecuali berdiri diam tak bergerak dengan mata nanar menatap sesosok tubuh kaku itu, bahkan ketika Budhe-nya datang dan memeluknya, atau Mamanya sendiri yang menghampiri dan menyapanya. Semuanya kosong, sekarang semua usahanya selama berbulan-bulan terasa sia-sia. Reva merasa dikutuk! Reva merasa bodoh, Reva merasa tidak berguna. Kesadaran kembali masuk ke otak Reva begitu orang-orang mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dia juga baru sadar kalau dirinya hanya memakai celana pendek dan t-shirt kumal. Buru-buru dia masuk kamar Resti untuk berganti baju.

‘Budhe ingin memintakan maaf untuk Pakde.’ Kata Budhe ketika Reva selesai berganti baju dan duduk diranjang Resti, bersebelahan dengan Budhe dan Resti.

Kedua orang itu sepertinya sudah ikhlas. Resti masih tidak menangis, Budhe matanya masih merah, tapi tidak menangis.

‘Reva yang harus minta maaf, Reva terlambat.’ Kata Reva lemah.

Dia sungguh menyesal.

Budhe menggeleng. ‘Ini yang terbaik, sekarang kau sudah tidak perlu lagi memikirkan kami, pikirkan dirimu sendiri. Itu yang Pakdhe-mu inginkan. Beliau sangat merasa bersalah padamu, karena merasa telah menjual keponakannya sendiri untuk kesembuhannya.’

Reva menoleh memandang Budhe-nya bingung.

‘Kami tahu Ellé mengeluarkan uang yang tidak sedikit selama setahun ini.’ Tambah Budhe.
Sekali lagi, ini benar. Semua biaya pengobatan Pakdhe memang Ellé—cowok Reva— yang menanggung.
‘Tapi Budhe, itu…..tapi darimana Pakdhe tahu kalau Ellé….’

‘Pakdhe-mu bukan orang bodoh, beliau juga masih bisa berfikir Va, siapa lagi yang mampu sampai berbuat seperti ini kalau bukan Ellé? Iya kan? Sudahlah, sekarang kalian tidak perlu lagi mengeluarkan uang banyak, kamu juga tidak perlu lagi pontang-panting mencari donor. Maaf ya sudah merepotkanmu dan Ellé.’ Kata Budhe memotong kata-kata Reva.

Resti akhirnya menemukan surat-surat pemberitahuan operasi pengangkatan sekaligus pendonoran ginjal bagi almarhum ayahnya ketika dia meminjam mobil Reva pagi harinya.

‘Jadi kamu sudah menyiapkan operasi Ayah?’ Tanya Resti tiba-tiba begitu mendapati Reva masih meringkuk dikamarnya.

Reva terperanjat mendengar pertanyaan itu. Dia lupa kalau surat-surat itu berada di jok belakang mobilnya.

‘Kau menemukannya?’

Resti mengangguk. Reva kemudian menceritakan alasan kepulangan mendadaknya. Pihak rumah sakit sudah mendapatkan pendonor ginjal yang cocok, segala persiapan sudah dilakukan termasuk kamar. Benar-benar tinggal pergi dan operasi bisa segera di jalankan. Siapa sangka, begitu sampai disini semuanya berubah tidak seperti yang dikiranya.

‘Jadi maksudmu, kamu kesini untuk membawa Ayah ke Hongkong, begitu?’

Reva menggeleng, ‘Tidak, kami akan melakukannya di Singapura, lebih dekat. Tapi sekarang sudah tidak berguna kan? Pakdhe sudah pergi.’ Kata Reva patah. ‘Aku barusan membatalkannya, memberitahu mereka apa yang terjadi.’

Resti terdiam. Resti tahu kenapa Reva begitu ngotot untuk membuat ayahnya sembuh, dulu Reva pernah kehilangan Om-nya, makanya kali ini dia berusaha begitu keras untuk membuat Ayahnya sembuh. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain.

‘Ellé bagaimana? Dia juga baru saja menjalani operasikan?’ Tanya Resti memecah keheningan diantara mereka.

Reva menjawab pelan. ‘Dia akan baik-baik saja, besok dia akan keluar dari rumah sakit dan mulai rehabilitasi dirumah, hanya seminggu sekali dia akan check up untuk memantau keadaannya agar bulan depan dia bisa balap lagi.’

***

Yatch itu meluncur tenang membelah lautan dilepas pantai Barcelona. Diburitan berdiri dua orang yang memandang birunya air dengan diam. Disamping cewek itu ada sebuah kotak karton besar. Angin musim semi mengibarkan syal cewek yang matanya mulai memerah. Cewek itu Reva dan cowok disebelahnya adalah Ellé.

Perlahan dia membuka tutup kotak dan melemparkan kupu-kupu kertas hasil lipatan Resti selama Ayahnya sakit sampai beliau dipanggil Yang Maha Kuasa. Reva teringat ucapan Resti saat itu, “Ini aku melipatnya sejak Ayah mulai sakit, harapanku selama ini sekaligus ketakutanku, kau bawalah, terserah mau kau apakan. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu untuk semua usahamu selama ini. Semua hal yang tidak bisa kami lakukan untuk Ayah.”

Reva memandang kupu-kupu kertas yang terbang tertiup angin, kemudian terhempas ke air dengan sayu.

Diambilnya salinan puisi yang ditulis Resti untuk Ayahnya. Puisi aslinya sudah dikubur bersamaam mereka mengubur seorang yang mereka sayangi.

Tuhanku……………….

Hari ini seekor kupu-kupu telah terbang memenuhi panggilan-Mu

Dia terbang dan kembali ke surgamu

Dia kupu-kupu yang indah

Tapi kurasa dia akan lebih indah jika berada bersama-Mu

Ingin ku pergi bersamanyaMelihatnya terbang diantara bunga-bunga-Mu

Tapi belumlah tiba waktuku

Kelak jika sampai diriku dihari itu

Pertemukanlah kami kembali

Dan bersama-sama akan kami warnai taman surga-Mu

Jagalah dia seperti yang selalu Engkau janjikan

Ellé menepuk pelan bahu Reva untuk menguatkan cewek itu.

‘He already in a better place right now, this was the best for him. Let him fly peacefully. Everything will be alright. God, always has a new path for us and your uncle has a new life.You should happy for him.’ Kata Ellé pelan.

Reva hanya mengangguk mendengar itu.

Ya, benar, Tuhan selalu mempunyai rencana yang tidak kita ketahui. Tapi apapun itu pastilah yang terbaik untuk kita, dan jika memang kematian yang terbaik untuk Pakdhe-nya, Reva tidak akan menyesalinya, dia sudah berusaha semampunya untuk membantunya bertahan.
Selamat jalan, bisik hatinya pelan. Kupu-kupu kertas itu semakin lama semakin mengabur dan akhirnya tidak terlihat sama sekali.

July 11th, 2011.

*Two days ago when I visited my old house at Singapore, I found this, the story about the girl who lost her uncle. I’ll translate it into english but in the mean time, I’ll just post the original version.*

Photo credit http://paperunlimited.wordpress.com/category/origami/page/4/

Written and Posted by tara lee @blue plum blossoms decoded

WHEN IT WILL OVER?

a kid syria

 

Under the same sun

Where the smokey air was formed

Dusty dry wind-swept away his dirty little face

He stay still

Silent

Stare at the unmoved poor father

Trembling with fear

Covers by anger

Fury blowing inside him

What’s our fault?

Why did they do this to us?

Oh my poor father!!!

He screaming inside

Nothing he could do but hiding

The last word his beloved father had said

One of his legacy

‘Son, go! Run and hide, save your self!’

As blood start leaking

 

That day,

The day that bullet had pierced through his poor father

In front of the helpless little son

Another anger was form

Another war had declare

And war will never end in the world that peace and love is the most expensive thing

 

*Dedicated to those kids who lost their parents during war, stay strong and be sure not to create another war. So in the future the will be no more innocent kids who suffering like you do now. It will be hard to forgive but that’s the best you can do to find peace*

 

Photo credit www.iinanews.com

Posted by tara lee @blue plum blossoms decoded

[REVISE] BLUE B and the CRYING EARTH

Once upon time, in the deep green forest there lived a beauty and kind a Blue Butterfly who has bright wings and brain too. Beside her bright brain she also likes travel to discover new thing.
One day she sets off from her lovely home to make a journey. She has no idea where exactly her destination is instead to follow where her step takes to.
To the other day she arrived at surprisingly barren hill. Neither trees nor bushes, seemingly all the trees already cut down. The weather is quite hot and the wind is dry and dusty. She tries to get some water as she getting so thirsty but the river as dry as the place next to her.
She fell into her knees, she was very upset with the surrounding, and it doesn’t like her home that green and pure.
‘Why this place is becomes so bad?’ cried Blue B’s heart.
A moment or so she heard another crying near by. Blue B looks around and trying to find the voice’s source. She looks aghast and stares at her feet to the earth underneath.
Here it is, the crying source, the Earth, which is the Earth who cries.
‘Why do you cry?’ asked Blue B slowly.
‘The same reason as you do, don’t you sees what I’ve become right now? It pains me, my body is quite hot and dusty and when the rain watering it washing away my soil.’ Replied The Earth sadly.
‘Who has done this?’ Again Blue B asking The Earth.
‘Human of course, who do you think  capable enough to have done this to us? They cut down the trees, doing whatever they wanna do without thinking, you see, my creatures all gone, my forest too, leaving myself alone.’ Explain The Earth with such an angry voice.
Blue B hardly knowing what to does or says. She took a deep breath and asking for the third times.
‘What can I do for you?’

The Earth shook her head and replied, ‘Nothing,’

That was a silent moment between them. Blue B thinking to find a way helping The Earth.

After a long pause, Blue B got up to her feet and asking,

‘Where I can see them? Human. I will try to talk to them. ‘

I’m not sure, but will they listen to you?’ asked The Earth hesitantly.

The idea of Blue B want to see human and talk to them somehow sounds tempting, indeed a tempting hope.  Yet the Crying Earth can not let her hope  goes up to the air. This case is happen since  years ago, if they  are wanted to, the hill will not bare at all. What does human care with the Crying Earth?  They have no caring at all.

But Blue B is smiling, ‘I don’t know but I’ll give it try to tried my best’

Blue B start to climbing down through barren hill and determined to see human to talk about the dying earth and of course to see sunshine where a new hope begin enlighten the whole space.

Continue reading

COMEBACK POST

It seems that I leave my home too long already. but once i make come back posting I did it with quite long article. I love that story and for the reason I compile it. for my special day today.

Beloved Brotas, I love you!!!! I wonder to visit you before I come home, kkkk.

I’d like to thanks to my dear who let me have such a wonderful month (I know it just the way for you to cherish me, ) and let me stay away from my daily routines for a little bit.

Mum and Dad who made call last night (and wondering where their daughter is) I’m sorry for being cold and distance, I didn’t mean but that’s I think my real personality, didn’t I too inherit in you two precisely?

To the unexpected guest friends, if only anyone knows with who I was celebrated the party last night, then I can guarantee if I still be alive today, (lol)

To Yuki, Hana and Akira, ah also Yui, thanks for being my guide and willing to come to accompany us for CNBLUE’s concerts, I know its hard for you all but you still in, thank you very very much!!!

To all of my friends, in the sites, blog, facebook, twitter, and many of my social media sites, THANK YOU VERY MUCH for your wishes.

Not forgetting to my beloved fans, thanks to come last night, thakns for the real candlle flame (its been 3 years I always using the fake one), and thanks for the eishes and presents. It’s meke me realize more that I’m not only the girl who sitting behind, but also part of his family.

THANK YOU EVERYONE!!!!!

 

posted by @tara_lee26

 

TIME AFTER TIME

The moment is ticking
Time after time
Slowly, I realize it’s only the light I needed
To lead me the way

You try to tear me down?
You try to bring me down?
Just go ahead and we’ll see
‘Cause nothing can’t stop me now

Do you know
I wanna keep going
Though I walk without knowing
Where this line will take me to
All I needed just running through
In intertwined of anxiety

When the heat is coming
And thousands of doubts attacking
Only one belief in my hand
To keep myself still stand

The dream is flowing
Day after day
I got to run after and hold it
No matter what it takes

You wanna hold me?
You wanna resist me?
Just go ahead and we’ll see
‘Cause nothing can’t stop me now

posted by @tara_lee26