1:31 AM

dsc_3621_e589afe69cac

Audrey mengerjap-ngerjapkan matanya menahan kantuk yang perlahan-lahan menyerangnya, sementara sang adik, Adriana masih asyik dengan tidurnya. Jalan pantura sudah sangat lengang, hanya sekali-sekali cooper putih mungil itu disalip bus atau truk. Terpikir olehnya untuk berhenti dan istirahat dihotel, perjalanan ke Malang masih jauh. Dan karena hanya berdua sang adik yang juga sama-sama cewek, agaknya akan beresiko jika terus memaksakan tetap jalan. Toh, tidak ada waktu yang harus dikejar.

Belum lagi Audrey menjalankan niatnya untuk berbelok ke hotel, matanya tertumbuk pada dua orang anak kecil di lampu merah perempatan jalan di depannya. Mereka sepertinya adik- kakak. Membawa gitar kecil, mereka asyik menghitung uang yang didapatnya, disebelah anak laki-laki yang besar tergeletak buku besar, entah buku apa.

Audrey menanti mereka menghampiri mobilnya—lampu merah menyala cukup lama—tapi dua anak kecil itu tidak juga bergerak. Mungkin karena hanya ada tiga kendaraan yang berhenti, sebuah bus, truk dan mobilnya Audrey. Audrey melihat jam di dashboard-nya, 1:31AM, jam segini mereka belum pulang juga, apa besok tidak sekolah? Diperhatikannya lagi penampilan kedua bocah itu. Dekil, dengan celana pendek, kaus kusam, dan bertelanjang kaki.
Audrey menarik nafas panjang. Sungguh berbeda dengan dirinya.

Lampu hijau menyala. Audrey menginjak pedal gas dengan kepala yang masih tertuju pada kedua bocah itu. Dari kaca spion dia masih bisa melihat keduanya yang—sepertinya—serius berbicara.

Mendadak satu pikiran muncul di kepalanya, Audrey memutar balik mobilnya dan berhenti tidak jauh dari kedua bocah pengamen tadi. Merasa mobil berhenti, Adriana terbangun.

‘Ada apa Kak? Kok berhenti?’ Tanya Adriana sambil mengeliat dan menggosok-gosok kedua matanya.

‘Nggak ada apa-apa, gue capek mau istirahat bentar, lo tidur aja lagi.’ Jawab Audrey sambil menutup pintu mobil. Dia tidak mengatakan tentang dua bocah pengamen itu, karena Audrey tahu adiknya paling anti dengan “kaum-kaum kumuh”.

‘Hai malem.’ Sapa Audrey begitu sampai di dekat kedua bocah itu.

Kedua anak itu jelas terkejut ada seorang cewek yang mendatangi mereka malam-malam begini. Sang kakak memperhatikan Audrey dari ujung rambut hingga ujung kaki, sementara adiknya berbisik,

‘Bule Mas, tapi kok iso ngomong jowo yo?’ kakaknya tidak menjawab tapi masih menatap tajam kearah Audrey.

Audrey tersenyum mendengar bisikan tadi, meskipun dia tidak mahir berbicara bahasa Jawa tapi dia bisa mengerti ucapan anak kecil tadi, karena keluarga Mama-nya banyak yang tinggal di Malang otomatis mereka seringnya berbicara bahasa Jawa daripada bahasa Indonesia apalagi bahasa Spanyol, hampir tidak pernah. Paling-paling saat Papa-nya ada ditengah-tengah mereka, baru sekali-sekali bahasa Spanyol muncul.

‘Eerm.. aku mau tanya, ada hotel nggak di sekitar sini?’ Tanya Audrey, sambil berjongkok disamping kedua anak itu.

‘Ada Mbak, kalau dari sana agak jauh.’ Jawab sang kakak sambil menunjuk arah datangnya Audrey tadi. ‘Tapi kalau Mbak terus kesana, lebih dekat, tidak sampai perempatan yang disana itu ada beberapa hotel.’

Audrey mengangguk-angguk mendengar penjelasan bocah itu. Diambilnya buku yang tergeletak disamping kaki sang kakak. Ternyata buku modul untuk sekolah terbuka tingkat SMP. Anak ini masih sekolah. Adiknya mungkin masih SD.

‘Ngomong-ngomong, kok sampai jam segini kalian belum pulang sih. Ini udah lewat tengah malam lho.’ Kata Audrey.

‘Uangnya belum cukup, nanti kalau sudah kami akan pulang.’ Jawab si adik cepat dan seketika mendapat tatapan tajam kakaknya.

Kening Audrey berkerut, pikiran pertamanya adalah kedua anak ini dipaksa bekerja untuk seseorang dan harus menyerahkan setoran setiap harinya, kasus-kasus semacam itu kan sedang marak saat ini.

‘Dia butuh uang untuk membayar biaya sekolah. Besok harus membayar.’ Jelas sang kakak dengan nada yang tiba-tiba berubah putus asa.

‘Memang berapa uang sekolahnya?’ Tanya Audrey lagi, lega, dua anak ini bukan anak yang terikat preman.

‘Dua puluh ribu.’ Jawab si adik.

Audrey terhenyak seketika, dua puluh ribu?! Hanya demi dua puluh ribu mereka berkeliaran dijalan sampai lewat tengah malam. Audrey lebih terkejut lagi ketika Adriana tiba-tiba sudah berada dibelakangnya.

‘Nah Ayah dan Ibu kalian? Apa tidak memberi uang?’ Tanya Audrey.

‘Emak dan Bapak mencari uang untuk makan, untuk sekolah kami cari sendiri.’ Jelas si kakak.

‘Memang orang tua kalian tidak cemas kalian belum pulang jam segini?’

Agak aneh kan kalau ada orang tua yang sampai membiarkan anaknya berkeliaran dijalan sampai selarut ini.

‘Mereka juga baru mulai bekerja lagi dipasar.’ Terang si adik.

‘Tengah malam begini?’ Tanya Audrey tidak percaya.

Sang kakak mengangguk. ‘Kalau tidak cepat-cepat, tidak bisa mendapat uang. Kami butuh makan dan dia masih sekolah.’

Mendadak Adriana berbalik menuju mobil tanpa berkata-kata.

Kedua anak itu memperhatikan Adriana dengan seksama dan penuh tanya.

‘Oh, dia adikku, namanya Adri, Adriana. Maaf ya kelakuannya memang sombong.’ Kata Audrey menjawab pandangan penuh Tanya kedua anak itu.

‘Kalau nama kakak siapa?’ Tanya si adik.

‘Audrey. Kalau kalian?’

‘Aku Dwi, nah mas-ku namanya Eka.’ Jawab si adik.

Adriana kembali dengan dua kantong KFC dan satu tas plastik yang Audrey tahu berisi buah-buahan. Tanpa berkata-kata Adri duduk dan meletakkan bungkusan yang dibawanya ditangah-tengah mereka. Diambilnya sebungkus nasi dan sepotong ayam.

‘Nih, ada sedikit makanan, kalian makan aja. Gila gue laper banget. Disini anginnya kenceng ya?’ cerocos Adri sambil merapatkan jaketnya.

Eka dan Dwi saling pandang, bertatapan aneh. Audrey hanya terbengong-bengong. Apa tidak salah dengan Adri, jangankan sampai makan di trotoar, biasanya berjalan kaki saja tidak mau!

‘Kenapa? Pada nggak mau makan? Jangan salahin gue ya ntar kalo abis.’ Kata Adri menyadari tatapan aneh mereka.

Audrey tersenyum, ‘Kalian makan saja, buruan, nanti dihabisin si Adri, dia rakus soalnya.’

Adri tidak bergeming, tapi terus mengunyah. Kedua anak itu kembali saling bertatapan dan tersenyum mendengar kat-kata Audrey. Audrey mengerti apa yang dipikirkan keduanya.

‘Tenang aja, kami bukan penculik kok, emang kami berdua bertampang penjahat ya?’ candanya.

‘Kami mau ke rumah nenek di Malang.’

Meski awalnya ragu-ragu kedua anak itupun ikut makan. Lahap sekali mereka. Audrey bertanya dalam hati, kapan terakhir kalinya mereka makan makanan enak tanpa harus berfikir ada uang atau tidak untuk besok.

Ditatapnya tubuh lusuh itu lekat-lekat, anak sekecil ini sudah dtuntut untuk mandiri, dia menengok dirinya sendiri, mendadak perasaan malu menyelusup hatinya. Sampai detik ini dia masih mengandalkan orang tua, meskipun dia sudah bekerja.

Dialihkan pandangannya ke Adri yang tertawa-tawa bersama Eka dan Dwi. Ternyata adiknya itu bisa juga bercanda dengan orang yang baru dikenalnya. Padahal sebelumnya Adri sangat anti dengan “kaum gembel” jangankan mendekat, melihat saja tidak sudi. Tapi malam ini Adri bukan hanya berdekatan tapi juga makan bersama mereka, di trotoar pula! Sungguh suatu keajaiban.

‘Kakak berdua bule tapi kok bisa bahasa Indonesia?’ Tanya Dwi tiba-tiba.

‘Ya iyalah bisa. Gue sama kakak lahir dan gede di Jakarta. Papa orang Spanyol dan Mama orang Malang, gitu.’ Jawab Adri.

Dwi hanya manggut-manggut. ‘Terus, Mbak Adri sudah pernah ke Spanyol?’

Adri mengangguk seraya mengupas jeruk. ‘Gue pernah beberapa tahun tinggal disana, tapi balik lagi ke Jakarta. Disana nggak enak, nggak ada yang ngurus, hehe…’

Tanpa sengaja Audrey melihat jam tangan Adri. Jam satu lewat.

‘ Eh, udah jam satu lewat nih, kalian pulang gih, udah larut malem. Rumah kalian dimana?

Kakak anter pulang.’ Ajak Audrey.

Keduanya terkejut, seperti menyadari sesuatu.

Audrey tahu, masalah uang itu.‘Kalian nggak usah cemas dengan uang, nanti kakak kasih.Rumah kalian jauh nggak dari sini. Mobil bisa lewat?’Tanya Audrey.

Eka mengangguk. ‘Rumah kami dibawah jembatan itu.’

Eka menunjuk sebuah jembatan yang tak jauh dari mereka duduk.Malam itu ada sebuah keajaiban. Di salah satu perempatan lampu merah di kota Kudus, tiga sosok tubuh berjalan di kegelapan menuju sebuah rumah kecil terbuat dari bambu di bawah sebuah jembatan. Dibelakangnya sebuah mini cooper putih mengikuti mereka perlahan.

Malam itu juga dua orang sangat senang karena untuk pertama kalinya mereka merasakan nikmatnya berbagi. Sedangkan bagi dua orang anak itu, mereka serasa mendapat keajaiban bertemu dengan orang mau membantu mereka dengan tulus. Rasa lelah dan kantuk yang semula begitu mengganggu kini menguap begitu saja.

‘Ini nomor telepon kakak, telepon aja kalau ada apa-apa, ya.’ Kata Audrey sambil menuliskan nomor hp-nya di buku Eka.

‘Jangan sampai hilang ya.’ Pesannya lagi.

Setengah satu malam di perempatan kota Kudus, semoga tidak ada lagi anak-anak seperti Eka dan Dwi yang harus berjuang hanya untuk mendapatkan sedikit pendidikan.

 

*This is another short story I found, I’ll trans it into english later :)*

Photo credit as tagged

Written and Posted by tara lee@blue plum blossoms decoded

KUPU-KUPU KERTAS

pu_fg_chou

Reva baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang, ketika ponselnya berdering. Dari Resti. Ada apa Resti menelepon tengah malam begini?

‘Halo Rev, ayah pulang malam ini, kamu kesini ya?’ pinta Resti begitu Reva menjawab “Halo”.

Kening Reva berkerut. ‘Tapi ini udah lebih dari tengah malam lho, besok aja ya. Pagi-pagi deh aku kesana.’

‘Nggak nyesel nanti kamu nggak ketemu ayah. Katanya kamu pulang untuk ketemu ayah.’ Kata Resti mengingatkan “misi” kepulangan Reva dari Barcelona.

‘Yaah.. kan masih banyak waktu ini. Aku capek banget nih, baru jam setengah dua-belas tadi aku nyampe dari Surabaya.’ Ucap Reva beralasan.

Memang benar Reva baru sampai di Malang sekitar dua setengah jam yang lalu, setelah menempuh perjalanan lebih dari dua puluh jam dari Barcelona-Kuala Lumpur-Surabaya.

‘Rev, bagaimana kalau udah nggak ada waktu lagi?’ Tanya Resti dengan suara pelan dan hampa.

Reva mengeryit mendengar intonasi suara Resti yang mendadak berubah.

‘Maksudmu?’ Tanya Resti bingung.

‘Udahlah, kamu ke rumah sekarang. Kutunggu ya, bye.’ Kata Resti menutup teleponnya.

Ada yang tidak biasa dengan Resti. Setelah tercenung beberapa saat, Reva akhirnya mengikuti kemauan Resti. Disambarnya jaket dan kunci mobil. Angin berembus kencang begitu Reva membuka pintu gerbang depan, dirapatkan jaketnya. Kompleks perumahannya juga sangat lengang, semua orang pastinya sudah terlelap dibuai mimpi. Pak Iman, satpam di pos terheran-heran begitu mobil Reva melewatinya.

‘Mau kemana Mbak malam-malam begini? Bukannya tadi baru saja sampai?’ Tanya Pak Iman ketika membuka portal.

‘Kerumah Pakde, Pak Iman.’ Jawab Reva sambil tersenyum.

‘Malam-malam begini!?’ Kata Pak Iman kaget.

Reva hanya mengangguk dan meringis. ‘Makasih Pak.’

‘Sama-sama. Hati hati lho Mbak.’ Pak Iman melambaikan tangan menjawab ucapan terima kasih

***

Ada yang aneh dengan rumah Resti. Dari kejauhan Reva bisa melihat jika rumah itu masih terang benderang, kelihatannya ramai pula! Mendadak ada suatu perasaan takut yang mendesak didadanya. Semoga jangan! Ini tidak boleh terjadi. Benar saja, gejolak dihatinya juga semakin terasa begitu Reva memarkir mobilnya di garasi samping rumah. Mobilnya Pakde ataupun Resti sendiri tidak ada, garasi kosong. Dari jauh dia sempat melihat nenek yang berjalan lunglai.

Jantung Reva berdetak semakin cepat. Resti menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan seperti biasanya. Suasana semakin aneh. Hampir semua perabotan di rumah telah disingkirkan, rumah menjadi—semakin tampak—super luas. Roni masih sibuk menggelar karpet terakhir yang ujung pintu, dia juga tersenyum lebar ke Reva, seperti biasa.

‘Kau sudah datang? Maaf ya, merepotkanmu, kata Mbak Resti kamu baru nyampe ya.’ Sapa Roni.

Satu kesamaan. Intonasi dan suara, baik Roni maupun Resti pelan dan hampa! Belum sempat Reva bertanya, sebuah ambulans memasuki halaman rumah, dibelakangnya, Reva mengenali mobil Papanya, begitu juga dibelakangnya lagi, ada beberapa mobil lagi.

‘Ayah datang.’ Desis Resti patah.

Sedangkan Roni sudah berlari ke depan.

Reva membeku ditampatnya berdiri, sirine ambulans itu sudah tidak berbunyi, hanya lampunya yang menyala, biru! Reva merasa seolah ada batu bata meluncur deras dari tenggorokan ke perutnya. Seluruh organ-organnya seolah ditarik keluar dari tubuhnya. Ternyata apa yang ditakutkan sejak memasuki rumah Resti menjadi kenyataan. Reva masih terpaku ketika Resti menariknya minggir. Roni, Papanya dan dua orang yang lain menggotong sesosok tubuh berbalut kain kafan yang dilapisi kain jarit batik.

Itu Pakde. Itu adalah orang yang menjadi alasan Resti buru-buru kembali ke Malang dua hari yang lalu. Tapi bukan untuk ini, bukan untuk menyaksikan tubuh itu kaku tak bergerak dan tak dapat mengenalinya lagi. Reva kemari membawa berita gembira. Reva kemari untuk bersyukur, bukan untuk menangis.

Tidak ada yang dilakukan Reva kecuali berdiri diam tak bergerak dengan mata nanar menatap sesosok tubuh kaku itu, bahkan ketika Budhe-nya datang dan memeluknya, atau Mamanya sendiri yang menghampiri dan menyapanya. Semuanya kosong, sekarang semua usahanya selama berbulan-bulan terasa sia-sia. Reva merasa dikutuk! Reva merasa bodoh, Reva merasa tidak berguna. Kesadaran kembali masuk ke otak Reva begitu orang-orang mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dia juga baru sadar kalau dirinya hanya memakai celana pendek dan t-shirt kumal. Buru-buru dia masuk kamar Resti untuk berganti baju.

‘Budhe ingin memintakan maaf untuk Pakde.’ Kata Budhe ketika Reva selesai berganti baju dan duduk diranjang Resti, bersebelahan dengan Budhe dan Resti.

Kedua orang itu sepertinya sudah ikhlas. Resti masih tidak menangis, Budhe matanya masih merah, tapi tidak menangis.

‘Reva yang harus minta maaf, Reva terlambat.’ Kata Reva lemah.

Dia sungguh menyesal.

Budhe menggeleng. ‘Ini yang terbaik, sekarang kau sudah tidak perlu lagi memikirkan kami, pikirkan dirimu sendiri. Itu yang Pakdhe-mu inginkan. Beliau sangat merasa bersalah padamu, karena merasa telah menjual keponakannya sendiri untuk kesembuhannya.’

Reva menoleh memandang Budhe-nya bingung.

‘Kami tahu Ellé mengeluarkan uang yang tidak sedikit selama setahun ini.’ Tambah Budhe.
Sekali lagi, ini benar. Semua biaya pengobatan Pakdhe memang Ellé—cowok Reva— yang menanggung.
‘Tapi Budhe, itu…..tapi darimana Pakdhe tahu kalau Ellé….’

‘Pakdhe-mu bukan orang bodoh, beliau juga masih bisa berfikir Va, siapa lagi yang mampu sampai berbuat seperti ini kalau bukan Ellé? Iya kan? Sudahlah, sekarang kalian tidak perlu lagi mengeluarkan uang banyak, kamu juga tidak perlu lagi pontang-panting mencari donor. Maaf ya sudah merepotkanmu dan Ellé.’ Kata Budhe memotong kata-kata Reva.

Resti akhirnya menemukan surat-surat pemberitahuan operasi pengangkatan sekaligus pendonoran ginjal bagi almarhum ayahnya ketika dia meminjam mobil Reva pagi harinya.

‘Jadi kamu sudah menyiapkan operasi Ayah?’ Tanya Resti tiba-tiba begitu mendapati Reva masih meringkuk dikamarnya.

Reva terperanjat mendengar pertanyaan itu. Dia lupa kalau surat-surat itu berada di jok belakang mobilnya.

‘Kau menemukannya?’

Resti mengangguk. Reva kemudian menceritakan alasan kepulangan mendadaknya. Pihak rumah sakit sudah mendapatkan pendonor ginjal yang cocok, segala persiapan sudah dilakukan termasuk kamar. Benar-benar tinggal pergi dan operasi bisa segera di jalankan. Siapa sangka, begitu sampai disini semuanya berubah tidak seperti yang dikiranya.

‘Jadi maksudmu, kamu kesini untuk membawa Ayah ke Hongkong, begitu?’

Reva menggeleng, ‘Tidak, kami akan melakukannya di Singapura, lebih dekat. Tapi sekarang sudah tidak berguna kan? Pakdhe sudah pergi.’ Kata Reva patah. ‘Aku barusan membatalkannya, memberitahu mereka apa yang terjadi.’

Resti terdiam. Resti tahu kenapa Reva begitu ngotot untuk membuat ayahnya sembuh, dulu Reva pernah kehilangan Om-nya, makanya kali ini dia berusaha begitu keras untuk membuat Ayahnya sembuh. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain.

‘Ellé bagaimana? Dia juga baru saja menjalani operasikan?’ Tanya Resti memecah keheningan diantara mereka.

Reva menjawab pelan. ‘Dia akan baik-baik saja, besok dia akan keluar dari rumah sakit dan mulai rehabilitasi dirumah, hanya seminggu sekali dia akan check up untuk memantau keadaannya agar bulan depan dia bisa balap lagi.’

***

Yatch itu meluncur tenang membelah lautan dilepas pantai Barcelona. Diburitan berdiri dua orang yang memandang birunya air dengan diam. Disamping cewek itu ada sebuah kotak karton besar. Angin musim semi mengibarkan syal cewek yang matanya mulai memerah. Cewek itu Reva dan cowok disebelahnya adalah Ellé.

Perlahan dia membuka tutup kotak dan melemparkan kupu-kupu kertas hasil lipatan Resti selama Ayahnya sakit sampai beliau dipanggil Yang Maha Kuasa. Reva teringat ucapan Resti saat itu, “Ini aku melipatnya sejak Ayah mulai sakit, harapanku selama ini sekaligus ketakutanku, kau bawalah, terserah mau kau apakan. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu untuk semua usahamu selama ini. Semua hal yang tidak bisa kami lakukan untuk Ayah.”

Reva memandang kupu-kupu kertas yang terbang tertiup angin, kemudian terhempas ke air dengan sayu.

Diambilnya salinan puisi yang ditulis Resti untuk Ayahnya. Puisi aslinya sudah dikubur bersamaam mereka mengubur seorang yang mereka sayangi.

Tuhanku……………….

Hari ini seekor kupu-kupu telah terbang memenuhi panggilan-Mu

Dia terbang dan kembali ke surgamu

Dia kupu-kupu yang indah

Tapi kurasa dia akan lebih indah jika berada bersama-Mu

Ingin ku pergi bersamanyaMelihatnya terbang diantara bunga-bunga-Mu

Tapi belumlah tiba waktuku

Kelak jika sampai diriku dihari itu

Pertemukanlah kami kembali

Dan bersama-sama akan kami warnai taman surga-Mu

Jagalah dia seperti yang selalu Engkau janjikan

Ellé menepuk pelan bahu Reva untuk menguatkan cewek itu.

‘He already in a better place right now, this was the best for him. Let him fly peacefully. Everything will be alright. God, always has a new path for us and your uncle has a new life.You should happy for him.’ Kata Ellé pelan.

Reva hanya mengangguk mendengar itu.

Ya, benar, Tuhan selalu mempunyai rencana yang tidak kita ketahui. Tapi apapun itu pastilah yang terbaik untuk kita, dan jika memang kematian yang terbaik untuk Pakdhe-nya, Reva tidak akan menyesalinya, dia sudah berusaha semampunya untuk membantunya bertahan.
Selamat jalan, bisik hatinya pelan. Kupu-kupu kertas itu semakin lama semakin mengabur dan akhirnya tidak terlihat sama sekali.

July 11th, 2011.

*Two days ago when I visited my old house at Singapore, I found this, the story about the girl who lost her uncle. I’ll translate it into english but in the mean time, I’ll just post the original version.*

Photo credit http://paperunlimited.wordpress.com/category/origami/page/4/

Written and Posted by tara lee @blue plum blossoms decoded

[REVISE] Blue B and The Old Man

It’s been weeks Blue B climbing down the mountain and this morning, she arrives at beautiful seashore with sandy coast, clear blue water and smoth waves in one part but the other one is… Is that mud? Blue B does not sure herself.

Moreover, in the distance there something catching  her eyes. It is an Old Man who busying himself to plant some trees in mud area when Blue B approaching him.

‘Hi, hello, may I know what are you doing?’ Asked Blue B.
‘Oh, hi… Hello, this?’ Replied The Old Man pointing at what he has done.

Blue B nodded.

‘I’m planting mangroves, these trees will protect this place from huge waves and also, it’d be a home for many creatures, come closer I’ll show you.’ Said The Old Man.

‘Oh really? Sure if you don’t mine Thank you.’

Blue B took the offer and she very surprise to see so many creatures she never even had seen it before.

There are something like giant clamp, she was not sure herself. Many kind of crabs, there also something fish-like but it has tiny feet and many more surprising creatures who catch Blue B’s eyes!

‘Interesting doesn’t it?’ Said the Old Man.

Blue B just nodded in agreement since she can not find the word to express it.

‘May I help you? To plant these mangroves.’ Asked Blue B.

‘Wah really? You don’t mind? Well, here I’ll show you.’ Replied The Old Man cheerfuly.

Then both of them start planting mangroves together  and Blue B    exchanging her stories, including her previous met with The Crying Earth.

‘Not all the people in the world like them, those who don’t care with the only place they’re living at,’ said the Old Man toward Blue B’s judgement to the human.

‘Do you see me? I’m really concern with my surrounding. I can’t stand to see my place turn bad and let the creatures extinct, so I try my best to do what I can. The more you make journey, you will see a lot of thing you never imagine and experiences those that can help to built yourself to be better and sensitive person about our only one and already dying planet.’ He went on saying.

Yeah, that could not be more true, if only there are more people like the Old Man then the Earth will never cry, Mr. Tree would never upset thought Silver Doe as she leaving the place and in her fond hope that she can makes another visit one day, to see her growing mangroves she planted.

The sun sets lower and lower as if it drowning into the golden sea, Silver Doe took one last glance, with hope in her mind that the mangroves will grow well so that it can protect the place and the creatures who live there well too.

 

Posted by @blue plum blossoms decoded

[REVISE] BLUE B and the CRYING EARTH

Once upon time, in the deep green forest there lived a beauty and kind a Blue Butterfly who has bright wings and brain too. Beside her bright brain she also likes travel to discover new thing.
One day she sets off from her lovely home to make a journey. She has no idea where exactly her destination is instead to follow where her step takes to.
To the other day she arrived at surprisingly barren hill. Neither trees nor bushes, seemingly all the trees already cut down. The weather is quite hot and the wind is dry and dusty. She tries to get some water as she getting so thirsty but the river as dry as the place next to her.
She fell into her knees, she was very upset with the surrounding, and it doesn’t like her home that green and pure.
‘Why this place is becomes so bad?’ cried Blue B’s heart.
A moment or so she heard another crying near by. Blue B looks around and trying to find the voice’s source. She looks aghast and stares at her feet to the earth underneath.
Here it is, the crying source, the Earth, which is the Earth who cries.
‘Why do you cry?’ asked Blue B slowly.
‘The same reason as you do, don’t you sees what I’ve become right now? It pains me, my body is quite hot and dusty and when the rain watering it washing away my soil.’ Replied The Earth sadly.
‘Who has done this?’ Again Blue B asking The Earth.
‘Human of course, who do you think  capable enough to have done this to us? They cut down the trees, doing whatever they wanna do without thinking, you see, my creatures all gone, my forest too, leaving myself alone.’ Explain The Earth with such an angry voice.
Blue B hardly knowing what to does or says. She took a deep breath and asking for the third times.
‘What can I do for you?’

The Earth shook her head and replied, ‘Nothing,’

That was a silent moment between them. Blue B thinking to find a way helping The Earth.

After a long pause, Blue B got up to her feet and asking,

‘Where I can see them? Human. I will try to talk to them. ‘

I’m not sure, but will they listen to you?’ asked The Earth hesitantly.

The idea of Blue B want to see human and talk to them somehow sounds tempting, indeed a tempting hope.  Yet the Crying Earth can not let her hope  goes up to the air. This case is happen since  years ago, if they  are wanted to, the hill will not bare at all. What does human care with the Crying Earth?  They have no caring at all.

But Blue B is smiling, ‘I don’t know but I’ll give it try to tried my best’

Blue B start to climbing down through barren hill and determined to see human to talk about the dying earth and of course to see sunshine where a new hope begin enlighten the whole space.

Continue reading

Blue B and the Salmon

One day, it just one and another day in her journey.  It was when she reached at the beautiful greenery at the down stream. Which mesmerizing her was the view next to her. There are hundreds or maybe thousands of salmon heading to the up-stream.

Wait, up-stream? To the water not ocean? Yes they are and that the reason Blue B so amaze, for the view was quite strange.

They are rushed to the up-stream for what? And surely they are swim against the stream. Moreover, as long as she knows that salmon is living in the ocean. How come they are moving up to the river?

Many questions train in her head. And she can not help but approaching The Salmon who takes rest near by and asking.

“Hi, how are you?”

“Hi, how are you, ermmm… Do I know you?” To the Salmon’s surprise that somebody approach her.

“Oh yes, my name is Blue Butterfly, usually people call me Blue B, I just curious with all you guys doing.” Replied Blue B.

“We’re all going back home.”  The Salmon said.

“Going back home?” Repeat Blue B.

The Salmon nodded.

Leaving Blue B in confusion stage, more, the Salmon should live in the ocean, why are they had to go to up-stream? And to the up-stream? Swimming against the wave?

“Yeah, we’re all going back home to where we were had born. It’s breeding season.” Explained The Salmon.

“I think you’re live in the ocean.”

“Eh, yes we are. Right we were born, we’re travel from the upper to the down stream and to the ocean but once we reach our age, we’re back again to our birthplace during breeding season.”

Blue B nodding while listened to the Salmon’s explanation.

“Then once breeding season is over, you guys back to the ocean again?” asked Blue B.

The Salmon shook her head and with bitter voice but surprisingly there proud inside, she answered,

“No, never, we’re all never had a chance to come back to the ocean as well as some of us who never reach up-stream.”

“Ahh… I see so you stay there taking care your kids?” said Blue B.

Again, The Salmon shook her head,

“We never see our kids either, actually neither of us had ever see our parents.”

Blue B gasped, “what do’u means by saying never knew your parents?”

The Salmon smile weakly and in a low voice she said,

“we’re all die after spawning. We’re too exhausted by our travel and lying eggs is not easy either. But we proud of it, the journey we made was worth enough, when we’re finally passing the new life to the new generation. It would be them who continue our life. We will live through them. Then the new generation will carry on the mission to next generation. That’s how we survive and keep alive. Don’t you think it’s cool? We’re wonder and hoping that the next life will be better and the offspring also will proud due to the chance of life we give to them. We’re all living in our own memory.”

Due to her shock, Blue B did not replay anything. She just thinking about the life The Salmon have been through. What a cruel destiny. She can not help but praising the effort and sacrifice The Salmon carry on her shoulders to keep their generation alive.

That day, another lesson for Blue B, sometimes the destiny is cruel enough to be feeling but there a great lesson behind it and of course it makes Blue B to appreciate her life more.

 

Posted by @blue plum blossoms decoded

LOVE IS ONE OF A KIND (Part 2 Lie)

Today is bright and shiny and there, near M’s studio, M and T having their lunch which is interrupted by Mary’s call.
“I need someone for my new advert, can you recommend ones for me? Ah, the better can I see you? I need an advise from expert.” Mary said.

‘Well, I’ll see you in my office after lunch, I’m outside now.’ Replied M shortly.

T, who sat next to M smiled seeing M hang up the phone and continue eating.

‘What?!’ Asked M when smiled did not leave T’s face when frequently look at him.

T just shrugged his shoulders, still smiled eventually saying,

‘You’d better take her for dinner or at least a cup of coffee instead of office flat meeting.’

M raised his face, looking directly into T’s eyes with kind of surprise,

‘For what?’

T rolled his eyes heard M’s question.

‘What for?! You don’t know?’

‘You say,’

T put his cutlers down and gazing at M’s face without saying anything. And when M gazing back at him, T looking directly into M’s dark brown eyes, x-raying it.

‘She’s fancy you and you reckon that you don’t know it?’ T said in low voice.

M did not answer but starting eating, avoiding T to gaze at him.

‘You know it for so long but you just pretending.’ T went on.

‘Then you see Mary later,’

T look at M with confuse mimic by sudden change of topic. M explained T what Mary had told him on her last call.

‘I don’t wanna see anyone you don’t like me to see.’ Conclude M.

Once again T put his cutlers and piercing M’s eyes. He took a deep breath and said slowly, still in low voice.

‘I never trying or willing to keep you under my wings. You aren’t my pet I should put in the cage. You still have your freedom about how or what you wanna. Don’t make me feel worse and guilty about limited people you can see. I don’t like that.’

‘I didn’t, I didn’t mean, I just, well, I’m sorry,’

T just smile as he took his lemon juice,

‘I’m done, no need to see me tonight ’cause I’ll be busy.’

He stood up and leave while M saying,

‘You know I’m sorry, really.’

T did not respond but continue takes step and walk away. M takes deep breath as he set his eyes on T’s figure who walk outside the restaurant untill its figure vanish.

After a minute M laughing himself, T’s voices echoing on his head. Then his thought goes into Mary, the one he knows for so long, as long as he keep his secret. He feels sorry and regret at the same time but he still has no idea how to start this conversation, Mary never reveal what does her feeling toward him yet M knows exactly because he feels the same way Mary is for somebody else.

Ah…. Why are loves so complicated?

Posted by
note : to see the casts, read love is one of the kind, character description.

LOVE IS ONE OF A KIND (Part 1 I Don’t Know Why)

“I’m downstairs, be quick, starving already…”

Mary smiled when reading the message, G is always like that one. And by the time she arrives, G was there with his usual grimance, a camera lying near him.

At once he gave Mary initial look and communicate with their eyes, indicating Mary to open a fancy blue box looks next to him.

As soon as Mary did it, a snake like doll zoomed into her face! Causing Mary deadly surprise by the sudden attack. No need to asked, G already roared with laughter.

In his last laugh, G gave a sign to the waitress near him. In a second they appear out of nowhere and laid plate by plate and seemingly they did not stop until no space left on the table!

Another shock for Mary,

‘what the- hey will you eat all of this?’ yelled Mary but suddenly she lowered her voice down.

G who already attacking his food said with his cheeks bulging,

‘I ‘old ‘ow ‘m tav’ing.’

For a while there was silence but the sound of chewing.
Then G broke it by saying,

‘you don’t eat’ not clear whether he asking or admitting something.

Mary shook her head, still silent.

G raised his head, quit eating,
‘still thinking of him?’

‘Eh, ‘

‘M, ‘

Mary gave only a bitter smile and took a sip of water.

‘Ouuuh, I don’t know why you love him, he just living statue, you will never catch his fancy! Why didn’t you turn into another guy? I have some if you wanna-‘

‘You think love just a thing, don’t you?’ interjected Mary.

G laughed, ‘ sorry, well I can be your date then,’

At the moment Mary just took another sip and burst it out at once, some hit G’s face.

‘Hey, I was just joking.’

‘Not funny.’

And there another things that send Mary into flabbergasted, it was when G asked waitress to packed the food he has not eaten yet and pass the bill to her.

‘What?!’

‘Sign, OC’

‘OC?’

G gave a big nod and waving the bill to her face,

‘Right, OC.’

‘You….’ Mary open her mouth but then closed it again, appearantly she lost her speech. Then with fierce look to the innocent act face in front of her, Mary took up her card.

‘Sist, I give you an advice, forget M, turn your back there 2B waiting behind you.’ Said G as he stood up.

Mary did not respon, so while G passes Mary, he stop beside her and placing his index fingers againts Mary’s cheeks without her notice.

‘Sist,’ called G.

‘What?!’

Mary turn her face quickly and gotcha! Her cheeks hit by G’s index fingers.

G burst out with laughter once again while Mary turning red because of anger.

‘G….!!’ Screamed Mary.

G runs away still with laughter but before he lost her glimpse, G called out, ‘I love you.’

posted by @tara_lee26
note: to see the casts read character description.